Berita Terkini Pertamina Rugi Rp 11 T, Begini Penjelasannya

Berita Terkini Pertamina Rugi Rp 11 T, Begini Penjelasannya

Posted on

Berita Terkini Pertamina Rugi Rp 11 T, Begini Penjelasannya – Kerugian PT Pertamina (Persero) menjadi sorotan banyak pihak, termasuk Komisi VII DPR RI. Di semester I-2020 saja, perusahaan BUMN ini sudah mengalami kerugian sebesar US$ 767,92 juta atau setara Rp 11,13 triliun.

Berita Terkini Pertamina Rugi Rp 11 T

Pada rapat kerja antara Komisi VII dan Menteri ESDM Arifin Tasrif, Anggota Komisi VII Fraksi PKB Ratna Juwita Sari meminta penjelasan terkait masalah tersebut. Menanggapi Ratna, Arifin mengatakan, kerugian Pertamina dipengaruhi sejumlah faktor. Faktor tersebut di antaranya yaitu dari penurunan harga minyak, nilai tukar, hingga menurunnya permintaan.

Arifin juga mengatakan bahwa meski harga minyak turun, tetapi kurs terguncang dan konsumsi tidak kembali seperti semula. Hal itu menjadi penyebab Pertamina merugi.

Pertamina Buka-bukaan Penyebab Rugi

Direktur Keuangan Pertamina, Emma Sri Martini membenarkan soal kerugian tersebut. Dia mengatakan, ada tiga faktor yang menyebabkan kerugian Pertamina menyentuh angka Rp 11 triliun.

Emma mengatakan bahwa posisi first half 2020 mencatatkan rugi kurang lebih US$ 707 juta. Tiga penyebab utama yang sudah disampaikan oleh menteri disebut dengan triple shock.

Faktor pertama Pertamina rugi Rp 11T, Emma menjelaskan karena menurunnya permintaan. Ia mengatakan, kondisi kali ini berbeda dengan krisis-krisis sebelumnya, di mana biasanya Pertamina dihadapkan pada tekanan harga minyak mentah dan nilai tukar.

Ia juga menambahkan bahwa saat ini, demand atau permintaan memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap revenue. Kondisi tersebut bahkan lebih berat dari kondisi financial krisis.

Baca juga:  Keunggulan Haluan.co Sebagai Portal Berita Online

Faktor kedua kerugian Pertamina adalah akibat kurs atau nilai tukar. Emma mengatakan, keuangan Pertamina dibukukan dalam kurs dolar Amerika Serikat (US$). Ia mengatakan bahwa hal tersebut menimbulkan komposisi rugi kurang lebih 30-40% dari kerugian.

Emma mengatakan faktor ketiga adalah melemahnya harga minyak dunia. Hal ini berpengaruh pada sektor hulu yang berkontribusi besar pada penerimaan Pertamina. Melemahnya crude price di second quarter menyentuh angka US$ 19-20 dibandingkan posisi Desember US$ 63 per barel, yang akan sangat terdampak pada margin di hulu. Padahal, margin di hulu merupakan penyumbang kontributor EBITDA terbesar, yaitu sebanyak 80%.

Ada Peran Pemerintah?

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) juga membuat Pertamina rugi Rp 11T . Emma menjelaskan, nilai tukar memberikan dampak signifikan karena pencatatan keuangan Pertamina dalam dolar AS. Pencatatan menggunakan dolar AS ini memberikan dampak pada piutang Pertamina kepada pemerintah.

Lanjutnya, utang kompensasi pemerintah atas selisih harga jual eceran (HJE) mencapai Rp 96 triliun dan subsidi lebih dari Rp 13 triliun. Utang ini mewakili kurang lebih 60% rugi kurs Pertamina. Hal tersebut sudah me-represent kurang lebih 60% rugi kurs translasi.

Emma mengatakan bahwa pembayaran utang pemerintah akan sangat membantu Pertamina. Sebab, tekanan dari kurs ini sangat besar. Maka, apabila pemerintah akan melakukan pembayaran, akan sangat membantu Pertamina menekan rugi kurs translasi.

Ia juga mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan hedging di market dan tidak ada flow-nya, tidak liquidity di market untuk hedging mitigasi kurs currency sebesar lebih dari Rp 100 triliun. Hal tersebut menyebabkan timbulnya komposisi rugi kurang lebih 30 hingga 40% dari kerugian Pertamina yang sebesar Rp 11 triliun itu.

Baca juga:  Yuk Kenali Detail Lantai Kayu Sebelum Membelinya!

Penutup

Demikianlah fakta terbaru atau berita terkini terkait tentang Pertamina rugi Rp 11T. percaya atau tidak, kita masih harus menunggu fakta yang ditemukan selanjutnya. Semoga kondisi tersebut bisa segera teratasi dengan baik dan Pertamina kembali bangkit. Berita Terupdate Lainnya kamu bisa dapatkan hanya di Harianhaluan.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *